Sabtu, 13 Agustus 2011

Kenduri, Tradisi Merakyat Jawa nan Eksis Multifungsi

Pic from here
Tanah Jawa kental akan nuansa budaya dan parodi yang tetap melegenda dimana saja bagi para penetapnya. Tak urung meskipun telah meninggalkan tanah kelahirannya tetapi banyak masyarakat yang tetap melaksanakan adat istiadat jawa di tanah rantauan.
Salah satu tradisi yang tiada pernah berhenti adalah kenduri. Kenduri yang dalam masyarakat jawa panggil dengan sebutan genduren adalah suatu upacara selamatan dengan  pembagian makanan dari individual masyarakat ke masyarakat umum yang merupakan bentuk ungkapan syukur atas suatu hal.
Ritual ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Ritual mengenai ucapan syukur ini biasanya diadakan di pagi hari ataupun di sore hari, dalam kata lain, jarang sekali dilaksanakan di tengah-tengah hari.
Kenduri sendiri biasanya disusun dalam wadah berbentuk persegi yang dibuat dari anyaman bambu yang dilapisi oleh kertas pelapis (kertas minyak) sebelum makanan sesaji atau syukuran dituangkan atau dimasukkan. Wadah anyawan bambu ini dikenal dengan sebutan besek.

Di dalam kenduri, makanan atau minuman yang ditampilkan secara beragam tergantung dari maksud acara yang di selenggarakan tersebut. Acara kenduri dalam pelaksanaanya pun berbeda-beda, khususnya pada menu. Diantaranya adalah acara;
1. Matenan atau pernikahan
2. Among- Among
3. Supitan atau khitanan
4. Brokohan atau syukuran yang dilakukan sesaat setelah bayi lahir
5. Orang meninggal
6. Ulang tahun

Menu utama kenduri pada umumnya terdiri atas nasi putih, macam-macam sayur seperti sayur kentang dan tahu, bakmi goreng, orak-arik buncis, pindang, cap jae, perkedel, tempe bacem dan juga telur ayam rebus. Di sebelah pojok besek biasanya terdapat 'sego ketan' (nasi ketan) yang diisikan ke dalam wadah yang menyerupai mangkuk dan terbuat dari daun pisang atau kertas minyak. Di sebelahnya, biasanya terdapat ayam yang telah dimasak dengan air rebusannya. Tak ketinggalan jajanan pasar yang terdiri dari buah-buahan seperti salak atau pisang, gorengan, kerupuk dan makanan-makanan ringan lainya.
Pic from here


Akan tetapi pada kenduri acara mantenan atau pernikahan dan among-among, pada umumnya masih ada menu tambahan berupa gudangan atau urap dan minuman berupa dawet. Di dalam among-among sepasaran kelahiran, biasanya tamu undangan diwajibkan meminum dawet di dalam sebuah kendhi yang telah dipecahkan oleh ulama yang memimpin acara kenduri sebagai tanda suatu penghargaan karena kita menerima lahirnya seorang anak untuk ikut berkarya di dunia ini, selain itu hal tersebut dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesalehan sosial kepada sesama.

Dalam among-among brokohan atau kenduri syukuran atas kelahiran seseorang, menu kenduri yang disuguhkan biasanya cukup sederhana, yaitu berupa sayur, urap, nasi, bakmi dan tempe goreng. Sedangkan kue apem, kolak dan ketan sebagai unsur sesaji sekaligus landasan ritual doa, dimasukkan di dalam kenduri atas seseorang yang telah meninggal. Hal yang sangat familiar adalah keberadaan nasi kuning di dalam kenduri.

Kenduri dapat dijadikan ajang saling silaturahmi bagi masyarakat satu sama lain. Karena mereka memiliki kesempatan untuk saling berkumpul dan bersilaturahmi dari rumah ke rumah si pemilik acara kenduri.

Sesaat sebelum acara kenduri dimulai biasanya terdengar bunyi kentongan yang ditabuh dengan kode dara muluk (berkepanjangan) untuk menggumpulkan masyarakat yang telah diundang agar segera berkumpul ke tempat terlaksananya kenduri. Seluruh keluarga beserta anak-anak serta remaja pun hadir dalam acara kenduri.

Mereka lalu duduk bersama dalam keadaan bersila. Kemudian, tuan rumah membuka acara dengan sambutan ramah atas kedatanganya, yang dilanjutkan oleh perangkat RT ataupun RW yang isinya bermaksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan makanan, ambengan, dan lain-lain termasuk waktunya. Setelah itu, Mbah Kaum (ulama daerah setempat) memimpin doa yang berisi permohonan maaf dan ampunan atau dosa para leluhur atau pribadi mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Doa yang di sampaikan oleh ulama biasanya menggunakan tata cara agama Islam, warga dan anak-anak mengamini. Setelah dibacakan doa, mereka mengambil besekan yang telah di sediakan oleh tuan rumah. Setelah itu, biasanya Mbah Kaum diberi uang wajib dan makanan secukupnya, sedangkan yang tidak hadir diberi besekan yang masih tersisa sesuai mandat dari tuan rumah yang diberikan secara distribusi ke rumah warga yang tidak dapat hadir tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar